Senin, 11 Oktober 2010

Taqwa adalah sebuah konsekuensi



Sudah masyhur kiranya di kalangan ummat Islam ayat perintah puasa, ketika masuk bulan Ramadhan ayat tersebut selalu terdengar baik di masjid-masjid ataupun di majlis ta’lim, bahkan di sekolah umum sekalipun.


"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa". (QS.2 : 183)

Lalu apakah kita tahu apa itu taqwa? Adakah eskatologis dari kata taqwa? Bagaimana kita bisa bertaqwa kalau kita sendiri sebenarnya tidak tahu apa itu “taqwa”? Inilah kajian para cendikiawan tentang kata “taqwa”.

Diterangkan oleh Suryana Af (2008:13), kata taqwa diambil dari rumpun wiqayah yang berarti memelihara. Memelihara hubungan yang baik dengan Allah Swt. Memelihara jangan sampai terperosok kepada perbuatan yang tidak diridlai-Nya. Memelihara segala perintah-Nya supaya dapat dijalankan. Memelihara kaki jangan sampai terperosok ke tempat yang penuh lumpur dan duri. Sebagaimana diungkapkan oleh HAMKA (2003:14) bahwa suatu ketika, Abu Hurairah Ra ditanya oleh seseorang: “Wahai Abu Hurairah, apakah yang dimaksud dengan taqwa itu?”. Abu Hurairah Ra tidak menjawab pertanyaan itu tetapi memberikan suatu ilustrasi. “Pernahkah engkau melewati suatu jalan dan engkau melihat jalan iru penuh dengan duri?. Bagaimana tindakanmu untuk melewatinya?”. Orang itu menjawab, “apabila aku melihat duri, maka aku menghindarinya dan berjalan di tempat yang tidak ada durinya, atau aku langkahi duri-duri itu, atau aku mundur”. Abu Hurairah cepat berkata : “itulah taqwa”. (HR. Ibnu Abi Dunya).

Taqwa dengan demikian tidak dapat diartikan sebatas (rasa) takut kepada Allah Swt. Rasa takut kepada Allah Swt merupakan sebagian kecil dari taqwa. Karena dalam taqwa terkandung cinta, kasih, harap, cemas, tawakkal, ridla dan sabar. Taqwa merupakan pelaksanaan dari iman dan amal shaleh. Bahkan dalam kata taqwa terkandung juga arti berani.

Itulah kandungan taqwa yang diilustrasikan Allah Swt :



2. Kitab (Al-Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa,3. (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami anugerahkan kepada mereka,4. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat.5. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Rabb-nya,dan merekalah orang-orang yang beruntung.
(QS. 2 : 2-5)
Dalam ayat lain Allah Swt mengungkapkan makna taqwa sebagai upaya pemeliharaan, sebagaimana firman-Nya :

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. 66 : 6)

Maka taqwa sebagai upaya pemeliharaan diri harus menerus terbenam dalam hati kita. Dengan bekal taqwa, seseorang akan mampu mengontrol tingkahlaku. Ia akan selalu menimbang apakah yang dilakukan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya atau tidak. Jika taqwa sudah menjadi baju dan bekal hidup seseorang, maka taqwa akan menjadi gaya hidupnya. Gaya hidup itulah yang kemudian terakumulasi menjadi suatu budaya. Yaitu hasil budi daya manusia dalam mengembangkan dan menerapkan ketaqwaan itu dalam kehidupannya. Allah Swt Berfirman :

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya".( QS. 7 : 96)
Dalam kajian semantik, Izutsu (2003:261) menganalisis kata taqwa dikaitkan dengan sifat-sifat Tuhan Yang akan Membalas di Hari Pengadilan yang balasan-Nya sangat pedih (syadid al ‘iqab), Tuhan Yang Membalas dendam (dzu intiqam) yang kemarahan-Nya akan melemparkan siapa saja kedalam kebinasaan. Taqwa asalnya lahir dalam lingkup eskatologis Hari Pengadilan ini, sehingga membuat orang merasa takut dan menjadikannya sungguh-sungguh serta tidak sembrono atau lalai dalam hidupnya. Kata taqwa selanjutnya kehilangan warna eskatologisnya yang sangat kuat dan akhirnya diartikan sama dengan ketaatan. dari sinilah muncul pengertian taqwa yang umumnya dikenal di kalangan ummat Islam, yakni imtitsal al awamir wa ijtinab an nawahi (Melaksanakan berbagai perintah Allah dan menjauhi berbagai larangan-Nya).

Shihab (2005:89) menyebutkan bahwa taqwa artinya menghindar. Orang-orang yang bertaqwa adalah orang yang menghindar, yakni menghindar dari kekufuran dengan alan beriman kepada Allah Swt, berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dia miliki dan yang tertinggi adalah menghindar dari segala aktifitas yang menjauhkan pikiran dari Allah Swt. Sedangkan Sayyid Qutub (2000:49) menyebutkan taqwa sebagai perasaan dalam hati, kondisi dan nurani, sumber arah perjalanan dan amalan, penyatu perasaan bathin dan tindakan lahir yang menghubungkan manusia dengan Allah Swt, baik secara tersembunyi maupun terang-terangan, ketika sedang sendirian maupun dihadapan banyak orang.

Sekarang, marilah kita renungkan apakah karakteristik taqwa sebagaimana disebutkan diatas telah kita rasakan? Hanya renungan mendalam dalam kerendahan yang akan mampu menjawabnya.

و الله أعلم بالصواب
sumber : catatan facebook jpm humairah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading !! left your comment, please..

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Islam Ornamental Art