Selasa, 02 November 2010

Miracle of ramadhan (cerpen)




"Fadli…!” Teriak umi memanggil anak laki-lakinya yang keluar rumah dalam keadaan marah.
“Umi_ sudahlah Ka’ Fadli tak akan mendengarkan Umi.” Ucap Najwa, sang adik menenangkan ibunya yang baru saja bertengkar dengan kakak laki-laki semata wayangnya itu.
“Tapi Najwa , Umi khawatir dengan kakakmu, Umi takut terjadi apa-apa dengannya di luar sana.” Jawab Umi dengan hati yang resah.
“Najwa mengerti perasaan Umi. Tapi biarkan saja ka’ Fadli pergi supaya kakak berpikir apa yang ia lakukan pada Umi, bagi najwa ka’ Fadli keterlaluan, ka’ Fadli hampir berani menampar Umi, kan????”
“Umi tau kakak berubah. Ia tidak bisa menerima kepergian Abimu, tapi Umi juga takut karena kekesalannya ia menjadi liar, menjadi anak yang tidak umi kenal, dan akan meninggalkan umi lagi seperti Abimu.”
Tiba-tiba Umi menangis, membuat Najwa ikut menangis. Mereka baru saja kehilangan orang yang dicintai 2 minggu yang lalu akibat kecelakaan.

****

Hampir satu bulan Fadli meninggalkan Najwa dan Umi,. Kini najwa hanya berdua bersama Umi dirumah menjalani hidup dari gaji pensiunan Abi.
Keresahan Najwa semakin tak tertahankan. Keberadaan kakaknya ia tidak tahu sama sekali, Najwa berpikir kenapa kakaknya berubah seperti itu. Najwa memang sempat mendapat kabar dari beberapa orang yang pernah melihat kakaknnya, mereka mengatakan bahwa kakaknya sekarang suka ikut-ikutan balapan liar dan semat diincar polisi.
Mengapa kakak berubah, dan mereka dulu pernah bertengkar karena kakaknya hampir saja kafir. “Fadli sampai kapan kamu gak jelas kayak gini, hidup diluar hanya menyusahkan orang lain”
“Umi tahu apa tentang Fadli…! Hardik Fadli. “Umi gak perlu peduli sama Fadli!!” Lanjutnya suatu ketika.
“Apakah kamu berubah karna karena kepergian Abi? Apa kamu belum menerima kepergian Abi?”
“Umi tahu kenapa Fadli berubah? Umi tanyakan saja kepada Allah, ini gak adil, Mi …!”
“Fadli apa yang kamu katakan. Kamu tidak boleh berkata seperti itu, ini semua sudah jalan-Nya.”
“Umi_ dengar. Dulu Fadli jadi anak yang baik, Fadli selalu mengikuti apa yang Abi katakan, selalu berdoa kepada Allah tapi kenapa Allah tega terhadap Fadli kenapa …..?!”
Kemudian Umi menampar Fadli,
“ Ha .. ha .. ha.. karna Allah juga Umi berani menampar anakmu ini.”
“ Astaghfirullah …. Maafkan Umi, Fadli!!”
“Umi gak usah minta maaf, berdo’a saja kepada Allah yang selalu Umi sebut-sebut itu, agar anaknya menyusul bapaknya.” Bentak Fadli dan berlalu pergi keluar rumah entah kemana.
Masih sangat terbayang pertengkaran itu dipelupuk mata Najwa pertengkaran kakak dan ibunya. Kadang ada rasa rindu akan sesosok kakak yang sangat diridukan, sosok seorang kakak yang dulu ia kagumi karna ahklaknya.
Rasanya berat sekali Ramdhan tahun ini yang harus dijalani oleh Najwa dan umi. Setelah kepergian ayahnya sebulan sebelum bulan Ramadhan dan kakaknya yang pergi entah kemana, Najwa dan Umi hanya bisa berdo’a dan berharap ada keajaiban dan hidayah datang untuk kakaknya agra kembali ke jalan yang benar dan bisa berkumpul bersama-sama menikmati bulan ramadhan yang penuh berkah.
****
“Hey kalian semua jangan kabur kalian sudah tertangkap.” Teriak polisi yang merazia para pembalap liar.
“Fadli pergi …..!!” teriak laki-laki berjaket hitam yang sudah tertangkap polisi.
“Tapi Boss …….”
“Udah loe pergi, selamatin diri loe …..”
Akhirnya Fadli menuruti ketua genknya berusaha melarikan diri dari kepungan polisi, namun ketika ingin mangalihkan diri sebuah pentungan tiba-tiba menghantam pelipis Fadli, yang membuat pelipisnya langsung mengalirkan darah segar.
Fadli sempat berkelahi degan polisi tersebut, karna dirasa Fadli tak sanggup melawan, ia pun langsung melarikan diri dengan kedaan wajah penuh luka.. Darah tarus saja mengalir dari pelipisnya dan menutupi matanya kemudian rasa pusing mulai menjalar membuat Fadli berhenti, karna tidak kuat lagi Fadlipun menjatukan dirinya didepan toko bunga yang tutup.
“Ka Nisa, ada orang terluka didepan toko.” Teriak anak laki-laki yang terkejut melihat seorang pemuda pingsan dan penuh luka diwajahnya.
“Benarkah, Alif?” Tanya seorang wanita berjilbab merah jambu yang keluar dari toko bunga itu.
“Kasihan ka, dia terluka lumayan parah.” Jelas Alif
“Ya sudah kamu bawa kedalam dan obati lukanya. Kakak mau buka toko dulu.” Jalas wanita itu.
Seharian itu Fadli tidak sadarkan diri, tetapi saat Fadli sadar ia kaget karena Fadli tak tahu dimana dia berada. Yang dilihatnya hanya kamar yang dipenuhi lukisan kaligrafi.
“ Kakak sudah sadar???” teriak anak laki-laki ari pintu kamar saat melihat Fadli sudah sadar.
“ Aku dimana …..??” tanya Fadli bingung.
“ Kakak ada dirumah saya, tadi malam kakak saya temukan tak berdaya dan penuh luka didepan toko saya.”
Tak ada jawaban dari Fadli saat mendengar penjelasan dari anak laki-laki di hadapannya.
“ Siapa nama mu ??” tanya Fadli datar
“ Nama saya Alif ka’,nama kakak??”.
“ Fadli, kamu tinggal sendirian disini?”.
“ Tidak saya tinggal bersama kakak permpuan saya,, namanya ka’ Nisa”.
“ Alif .. laki-laki itu sudah sadar??”. tanya seorang wanita yang mungkin seumuran dengan Fadli, wanita itu menggunakan jilbab merah jambu.
“ Sudah kak………..”.
“ Ya sudah berikan laki-laki itu makanan, tadi kakak baru beli”.
“ Iya kak”.
Setelah Nisa pergi, Fadli sempat memperhatikan gadis berjilbab itu dan mengingatkannya kepada adiknya Najwa yang sudah lama ia tinggalkan bersama umi. Tak terasa hari sudah malam, Fadli sama sekali tidak bisa tidur, ketika Fadli ingin keluar kamar dilihatnya Nisa sedang berjalan sendirian ke Mushola sambil meraba-raba sekitarnya.
“ Nisa buta …..”. Fadli begitu kaget ketika melihat keadaan Nisa yang memiliki mata indah itu ternyata tidak bisa melihat. Fadli terus memperhatikan Nisa wajahnya sangat bercahaya karena air wudhu, entah karna cahaya atau apalah wajah Nisa terlihat sangat berseri dan cerah,wajah yang tak pernah dilihat Fadli. Kemudian Nisa melaksanakan shalat tahajud, berdo’a, dan mengaji. Fadli pun masih memperhatikannya.
“ Shalat…berdo’a… mengaji…” Fadli memang telah meninggalkan itu semua entah sejak kapan ia telah lama sekali meninggalkan itu semua. Suara Nisa yang indah melantunkan ayat Al-Qur’an, membuat hati Fadli teriris, ia baru sadar bahwa dia terlempar jauh dari jalan kebenaran.
Tak terasa waktu sahur telah tiba, Nisa pun menyudahi mengajinya untuk menyiapkan sahur, saat ingin kembali Nisa menabrak Fadli
“ Maaf siapa ya …..”.
“ Aku Fadli”.
“ Oh.. kamu laki-laki yang pingsan itu yah, namamu Fadli salam kenal nama ku Nisa, kata adikku kita seumuran,kamu sedang apa disini?”. Tanya Nisa tanpa curiga
“ Kebetulan lewat” Jawab Fadli bohong.
“ Kita sahur yuk…”. Ajak Nisa
“ Sahur……”. Jawab Fadli heran
“ Ya, inikan bulan Ramadhan, agama kamu Islam kan”.
“ Iya… aku…. Agama ku Islam”.
Dipagi buta itu Nisa, Alif dan Fadli sahur bersama. Paginya saat Nisa sedang menjaga toko bunganya, kemudian Fadli menghapirinya.
“ Assalamualaikum”.
“ Waalaikum salam, Fadli”. Jawab Nisa dengan senyum manis
“ Boleh aku duduk disamping mu”.
“ Boleh, silahkan ….”
Fadli sempat diam dan hanya memperhatikan Nisa yang sedang menata bunga mawar yang segar.
“ Nisa……”
“ Ya….. ada apa Fadli??”.
“ Kamu bisa membedakan bunga-bunga itu” tanya Fadli
“ Tentu bisa”
“ Tapi kamu kan …..”
“ Maksudmu aku buta, aku masih memiliki hidung yang bisa mencium aroma bunga yang berbeda-beda”
“ Kamu hanya tinggal berdua”
“ Ya, kedua orang tua ku telah meninggal karena kecelakaan dan butanya aku karena kecelakaan itu juga”.
Fadli diam sejenak, dia kagum pada Nisa yang begitu kuat dalam menjalani hidup dalam kenyataan seperti itu.
“ Kau punya kelurga?” Tanya Nisa
“ Aku… aku punya, aku punya umi dan adik perempuan”
“ Wah, pasti adik dan umi kamu cantik ya”
“………”
“ Sudahkah kamu menyiapkan kado untuk mereka lebaran nanti??”
“ Lebaran??”
“ Ya … lebaran dimana kita satu keluarga brkumpul meminta maaf , atas dosa-dosa kita kepada keluarga, dan merayakan keberhasilan kita berpuasa selama satu bulan”
“ Kado… aku belum memikirkannya”
“ Fadli, maaf aku lancang, sepertinya ada rahasia yang kamu sembunyikan kepada ku. Aku punya saran untuk mu, banyak keberkahan keajaiban dibulan Ramadhan, yang mana setiap do’a dikabulkan dan banyak setiap dosa diampuni, jika ada yang mengganjal dihati mu berserah dirilah kepada Allah, karena Allah Maha mengetahui dan Maha memberi. Dan aku yakin Allah bisa membantu masalahmu, karena Allah tidak pernah tidur dan Allah tahu apa-apa yang terjadi pada ciptaanya.”
Mendengar perkataan Nisa tiba-tiba Fadli menangis seperti ada batu besar yang baru saja dihancurkan, seperti ada cahaya yang baru saja menyinari hidupnya, hatinya lemah mendengar itu semua, tiba-tiba timbul rasa rindu yang begitu besar pada Najwa dan Umi, rasa bersalah pada abi, umi, dan najwa ingin rasanya Fadli bersujud dikaki umi.
“ Nisa … terima kasih atas bantuan mu, aku ingin kembali”
“ sama-sama Fadli”
Dengan segera Fadli pulang menggunakan sepedah motornya, hatinya bingung takkaruan apakah ini hidayah untuknya?? Saat dilampu merah, tiba-tiba kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang sangat parah. Fadli pun koma selama dua hari, dan terjadi kerusakan pada jantungnya umi dan najwa yang dapat kabar dari polisi langsung kerumah sakit dimana Fadli dirawat. Umi tak henti-hentinya menangis.
“ Fadli, kenapa kamu bisa jadi begini, umi yang tak pernah tau kabar kamu, kenapa sekalinya umi mendengar kabar kamu dalam keadaan seperti ini Fadli…” Ucap Umi sambil menangis.
“ Umi istighfar, berdoa saja semoga tak terjadi apa-apa pada kak Fadli” Najwa mencoba menenangkan Umi yang matanya mulai membengkak.
Tiba-tiba dokter datang memberitahukan bahwa Fadli membutuhkan donor jantung. Jika tidak, Fadli tidak akan terselamatkan. Umi dan Najwa yang mendengar kabar tersebut bingung bukan main, resah dan bimbang. Kemudian ada dokter lain yang memberitahukan bahwa ada yang ingin mendonorkan jantungnya.
Mendengar itu Umi dan Najwa bahagia, akhirnya operasi jantung pada Fadli berlangsung 5 jam kemudian Fadli sudah boleh dijenguk.
“Fadli…”teriak Umi saat bertemu Fadli
“Umi…Najwa…”
“Fadli, Umi kangen sama kamu”
“Umi maafkan Fadli,maafkan kesalahan Fadli Umi,Fadli khilaf Umi,Fadli khilaf…Fadli takut kehilangan Umi dan Najwa, Umi mau maafin Fadli…” Suara Fadli tertutup oleh suara tangisnya.
“ Umi dan Najwa maafin kamu Fadli, alhamdulillah kamu kembali kepada kita”.
“ Umi, Nisa lah yang telah menyadarkan Fadli, wanita itu yang telah membawa Fadli kembali”.
“ Pasti dia wanita yang cantik dan baik hati’.
“ Iya Umi, dia seperti malaikat”.
Saat mereka sedang bercakap-cakap, tiba-tiba ada dokter yang membawa anak laki-laki kehadapan Fadli.
“ Alif…” Fadli terkejut karna ia mengenal anak laki-laki itu.
“ Ibu… ini adalah adik dari pendonor jantung untuk anak Ibu…”
“ Pendonor jantung…??” tanya Fadli bingung sambil memegang dadanya.
“ Ka Fadli, kecelakaan itu membuat jantung Ka Fadli rusak an tidak bisa berfungsi, lalu tiba-tiba dokter memberitahukan bahwa ada ang ingin mendonorkan jantungnya.” Jelas Najwa kepada Fadli.
“ Itu… jantung Ka Nisa” jawab Alif sambil tertunduk.
“ Jantung Nisa…” Fadli sangat kaget, seluruh tubuhnya lemah, aliran darahnya seakan berhenti, Nisa wanita buta berjilbab merah muda yang baru ia kenal dan yang telah menyadarkannya kini memberikan jantungnya kepada Fadli, tanpa sadar Fadli menangis, menangisi kebodohan Fadli selama ini.
“ Umi…Nisa telah tiada, Fadli belum mengucapkan terimakasih Umi” tangis Fadli dipelukan Umi.
“ Pasti Nisa sudah tau niat baikmu Fadli, karna ia hidup pada ragamu”.
Saat Fadli mulai menyesali apa yang ia perbuat dan berjanji akan berubah menjadi lebih baik. Fadli melihat Abi dan Nisa tersenyum kepadanya, dan saat itulah takbir kemenangan berkumandang …
“Allah hu akbar …Allah hu akbar…Allah hu akbar.La…ila…ha ilallah hu Allah hu akbar Allah huakbar walillah ilham.”
Inilah keajaiban di bulan ramadhan yang penuh berkah.


TAMAT

oleh : ayi putri nabawi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading !! left your comment, please..

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Islam Ornamental Art