Selasa, 02 November 2010

SEGUMPAL DARAH YANG BERKUASA






إِنَّ فيِ الجَسَدِ مُضْغَةٌ فَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَ إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهُوَ القَلْبُ
“sesungguhnya di dalam tubuh itu ada segumpal darah yang apa bila segumpal darah itu benar maka benarlah seluruh jasad dan apabila segumpal darah itu rusak maka rusaklah seluruh jasad, ketahuilah bahwa itu adalah HATI “(HR. bukhari & muslim)



Dari hadits di atas kita di buat berfikir dengan ungkapan segumpal darah yang berarti hati, telah kita ketahui bahwa hati di dalam tubuh kita memang terbentuk dari gumpalan darah padat maka siapapun dapat menyimpulkan bahwa arti dari ungkapan hadits di atas adalah hati akan tetapi maksud dari kata hati di atas adalah lebih kepada fu’ad yaitu bagian terdalam dari hati, sebelumnya penulis akan mengajak anda untuk mengenal bagian-bagian dari hati. Ada 3 bagian hati dari dalam jasad manusia,yang pertama “sadrn” yaitu bagian terluar dari hati atau dapat diartikan sebagai dada yang menjadi bagian terluar dari pada hati itu sendiri, lalu “qalb” yaitu bagian kedua dari hati yang terdapat dalam tubuh manusia yang digambarkan oleh kebanyakan orang berbentuk seperti daun sanubari, qalb adalah bentuk dari hati tersebut, selanjutnya bagian yang paling dalam yang menjadi sumber kontrol dari tubuh manusia dan otak yaitu “ fu’ad” dimana fu’ad inilah bagian terpenting dari hati itu.

Jadi yang dimaksudkan pada hadits di atas adalah hati yang paling dalam yang menjadi raja bagi tubuh manusia dengan perintah hati pulalah otak merangsang hal-hal yang akan di lakukan oleh tubuh, maka kita sebagai pemilik tubuh harus pintar-pintar menjaga hati, seperti yang telah dijelaskan dalam hadits apabila hati tak dapat kita jaga, ia akan kacau salah-salah saytan akan menguasainya maka seluruh perbuatan kita atas perintah saytan karna saytanlah yang menguasai hati kita, tapi bila kita dapat menjaga dengan baik hati kita dengan dzikrullah maka malaikatlah yang akan menjadi komandan ia yang akan menentukan perintah hati terhadap tubuh.
Kewaspadaan dalam menjaga dan mengarahkan hati kepada hal yang benar harus kita usahakan sejak dini, karna bila hati sudah membatu akan sangat sulit menghancurkan batu itu kecuali Allah mencerahkan hati itu dengan hidayahnya yang tentunya sangat ter batas. Hati bisa menjadi sangat mudah lembut juga bisa manjadadi sangat mudah keras tergantung dari si pemilik hati itu sendiri, di bulan ramadhan ini sebaiknya dengan tak henti-hentinya kita terus mengarahkan hati kita kepada sang khaliq karna hanya di bulan ini limpahan hidayah Allah datang kepada hamba-hambanya yang berjuang mendekatkan hatinya kepada Allah, jadi bulan yang penuh maghfiroh ini menjadi kesempatan emas bagi kita untuk meluruskan hati kita kepada hal-hal yang benar agar hati yang sudah seharusnya kita jaga ini tak menjadi rusak oleh kesesatan.
Pada kesempatan ini baiknya kita manfaatkan waktu untuk mencari nurullah untuk mencerahkan hati kita dan menetapkan hati kita pada satu keyakinan pada satu keimanan dan satu agamanya yaitu segala sesuatu yang diridhoi-Nya, perlu pembaca ketahui bahwa kata qalb berasal dari kata kerja qalaba-yaqlibu yang berarti membalikan atau memalingkan yang menjadi kata benda qalb, jadi dapat disimpulkan bahwa qalb atau hati itu adalah sesuatu yang sering berbalik atau berpaling, dalam do’a umumnya do’a setelah shalat fardhu kita sering mengucapkan,
"ياَ مُقَِلّبَ القُلُوبِ ثَبِّت قُلُوبَنَا عَلى دِينِكَ وَ عَلى عَطَاءَتِكَ"
“wahai pembalik ( yang membulak-balikan ) hati, tetapkanlah hatiku atas agamamu dan keta’atanku kepadamu.”
Sangat jelas dari do’a ini kita dapat mengetahui bahwa hati itu adalah sesuatu yang selalu tak tentu dan tak tetap, selalu berpaling dan kadang kembali kadang ia baik kadang ia juga buruk, tak bosan penulis menyimpulkan bahwa segalanya tergantung dari pemilik qalb itu sendiri, jika ia bisa menetapkan hatinya pada kebaikan juga dengan do’anya kepada sang pembalik hati maka selamatlah pemilik hati itu, sebagai orang terpelajar (santri) seharusnya kita dapat menetapkan kebaikan dihati kita, karna kita mengetahui apa balasan dari kebaikan dan apa balasan dari keburukan.

1 komentar:

Syafaat Ahmad mengatakan...

nice blog, terus berkarya, salam kenal ya ukhti,,, u beautiful n smart

Posting Komentar

Thank you for reading !! left your comment, please..

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Islam Ornamental Art