Kamis, 21 Juni 2012

Mencari Iman Demi Kenal Allah


Bismillahirrahmaanirrahiim

Kondisi umat manusia akhir-akhir ini benar-benar menggambarkan betapa umat manusia sangat jauh dari apa yang sering kita idam-idamkan bersama, yakni kedamaian dan kerukunan. Manusia sekarang begitu mudah mencaci-maki saudaranya. Nyawa sudah tidak ada harganya lagi. Pembunuhan-pembunuhan keji, pembakaran, penganiayaan sampai menyebarnya fitnah dan dusta melanda umat ini. Subhanallah...

Kita bukan sedang memvonis tapi membahas kenyataan. Borok umat yang berupa kekerasan, pembunuhan saling caci ini tidak perlu ditutup-tutupi tapi perlu dicari penyebabnya untuk kemudian diusahakan penyelesaiannya. Dan jika kita merunut akar segala keruwetan persoalan bangsa serta kebejatan akhlak ini adalah “umat manusia tidak lagi memiliki iman”. Iman manusia pergi entah kemana. Yang ada sekarang hanyalah topeng iman atau iman tinggal bekasnya, ibarat buah tinggal kulit tanpa isi, ibarat pusaka tinggal wrangka tanpa keris, ibarat kaki bengkak kena api tinggal bengkaknya tidak ada apinya.

Ungkapan di atas jelas akan dibantah dan ditentang habis oleh orang yang merasa masih memiliki iman. Namun, kami berharap agar hal ini hendaknya tidak di tanggapi dengan frontal, justru mari kita endapkan dalam hati kemudian dipikir secara lembut dan jernih. Sebab hampir semua orang mengaku beriman. Jangankan yang terpandang alim, orang yang bodoh dan kenyataan beribadahnya sangat kurang saja masih mengaku beriman. Hal ini telah terungkap pada Qs. 29:2-361:2-3, 62:5, 2:8-16 dan 44 serta beberapa hadits Nabi SAW. Karena itulah mari kita mencoba melakukan screening dan seleksi iman. Jika memang kita mengaku beriman, mari dilihat bagaimana “bentuk” iman kita. Jika panjang, panjangnya seberapa? berbentuk bulatkah? berbentuk lurus ataukah bengkok? menipis ataukah membumbung tinggi? ibarat orang yang mengaku punya istri, bagaimana rupanya, cantik atau jelek, tinggi atau pendek kita harus tahu. Ibarat mencari barang yang hilang, harus kita ketahui betul ciri-cirinya. Sebab jangan sampai kita mengaku beriman tapi tidak tahu bagaimana kondisi keimanan ketika nanti sudah berada di kubur, tidak ada gunanya kecuali tangis pilu disertai penyesalan.



Screening iman itu antara lain, melalui beberapa kidikator berikut:

1. Setiap diri dalam setiap hari memiliki dosa. Maka jika orang yang beriman tentu bisa mengetahui dosanya. Karena iman itu cahaya atau sinar, sehingga jika di dalam hati seseorang itu ada sinar iman tentu bisa menerangi hatinya dan mengetahui dosa-dosanya sehingga bertaubat. Jika sekarang banyak orang mengaku beriman tapi tidak sadar dirinya berdosa, lalu dimana imannya? Tidak lain karena sinar imannya redup (jawa: melik-melik) seperti bara rokok atau obat nyamuk bakar. Perlu dipikirkan secara jernih. Kenapa? Karena manusia yang beriman itu dikala mendengar peringatan dari Al-Qur’an yan mengena kepada perbuatannya yang masih tidak sesuai dengan peringatan tersebut, seraya bersungkur sujud dan menangis.

Seperti halnya Rosul Muhammad yang tiap hari 100 kali sowan kepada ALLAH perlu taubat, Rosul Adam 300 tahun menangis taubat, demikian pula Rosul Yunus dan Rosul yang lain. Lalu jika kita mengaku beriman sudahkah kita menangisi dosa kita? Adannya ALLAH memerintahkan kita untuk segera balapan, berlomba meminta ampunan kepada-Nya adalah disebabkan ALLAH tahu betul dosa kita yang bertumpuk-tumpuk lagi bermacam jenisnya. Jika tidak ditaubati dengan cara berlomba, dikhawatirkan keburu maut datang menjemput, sedangkan beban dosa belum selesai ditaubati, lalu bagaimana nanti nasibnya dikubur? (Qs. 3:133-135)

2. Sifat pendendam dan pemarah adalah milik orang kafir, maka orang yang beriman tentu terbebas dari sifat pemarah dan pendendam berganti dengan sifat pengasih dan pemurah. Orang beriman bisa menahan amarah ketika bergejolak dalam hati. Lalu sudahkah orang yang mengaku beriman memiliki ciri-ciri ini? (Qs. 3:134-135)

3. Orang kafir hasil usahanya untuk kepentingan pribadi saja, sedangkan orang beriman hasil usahanya untuk kebersamaan. Hidupnya senantiasa didarmabaktikan untuk kepentingan bangsa, agama dan umat. Coba kita lihat ke dalam relung kenyataan kehidupan kita, lebih banyak mana hasil usaha kita yang untuk kepentingan pribadi daripada untuk kebersamaan? Kalau begitu apakah kita masih tergolong beriman? Tidaklah salah jika dalam salah satu firman-Nya, ALLAH menyatakan bahwa iman manusia belum meresap ke dalam hati. Masih mengambang di bibir. Sebab orang yang beriman tidak pernah ragu lagi untuk memberikan harta, jiwa dan raganya untuk berjuang demi kepentingan agama, bangsa dan umat sesama. (Qs. Al-Hujurat 14-15)

4. Golongan bodoh dan kafir hidupnya hanya mencintai dan berebut barang-barang ciptaan ALLAH, seperti ternak, kebun, buah-buahan, air dll. tanpa menoleh kepada Penciptanya yakni ALLAH. Sedangkan orang yang beriman mencintai barang-barang yang ada di dunia sekaligus mencintai Penciptanya bahkan lebih mencintai ALLAH daripada barang-barang yang ada di dunia ini. Kemudian mari kita bandingkan lebih banyak mana ingatan dan cinta kita kepada barang-barang selain ALLAH daripada kepada ALLAH? kalau ternyata masih banyak ingatan kepada barang itu daripada ALLAH jelas imannya sedang pergi. Bahkan dalam salah satu firman-Nya, ALLAH menggariskan bahwa golongan manusia yang mencintai sesuatu sama seperti mencintai ALLAH, berarti golongan manusia yang membuat tuhan tandingan (Qs. Al-Baqarah 165). Sebab orang beriman hanya mencintai ALLAH semata, iman itu sinar sehingga dengan sinar iman itulah seseorang bisa “melihat” ALLAH sekaligus mencintainya. Jadi yang membuat seseorang bisa mencintai ALLAH daripada lain-lain itu adalah iman yang bersinar.

5. Orang bodoh dan kafir yang dipikirkan lebih banyak kehidupan dunia atau bahkan hanya dunia semata dan melupakan akhirat. Sementara orang yang di dalam hatinya ada iman tentu bisa menyeimbangkan antara pemikiran dunia dan akhirat, setidaknya sama 50%-50%, bahkan jika mungkin 75% akhirat dan 25% dunia, sebab akhirat lebih abadi. Kini kembali kita ajak diri kita berkaca secara jujur, lebih banyak mana pemikiran kita yang digunakan untuk mengurusi kebutuhan hidup di dunia daripada memikirkan kebutuhan hidup id akhirat? Jujur saja, pikirkan secara jernih dan lembut. Diakui atau tidak kebanyakan manusia lebih banyak memikirkan kehidupan dunianya daripada akhiratnya. (Qs. 2:212, 14:3, 59:18-19, 75:20-21, 76:27, 79:38-39) 


Dari ke-lima indikator tadi, jika memang benar-benar kita adakan screening secara mendasar dan mendetil, secara jujur, maka akan kita temukan betapa umat manusia sebagian besar tidak beriman. Memang di luar tampak dalil-dalil kitab, tapi setelah dicek ternyata kosong dari iman. Kita tidak perlu malu mengakui hal ini. Lebih baik malu di dunia daripada nanti malu di kubur atau di akhirat, tentu lebih memilukan karena disertai siksa yang pedih.Sebagai tes akhir mari kita perhatikan firman ALLAH yang memerintahkan “coba korbankan dirimu atau coba tinggalkan kampung halamanmu!”.Maksudnya berkorban dan keluar dari kampung halaman adalah mendarmabaktikan jiwa, raga, harta untuk membela bangsa dan agama tidak pandang suku, agama, ras dan golongan apapun (An-Nisa’ 66). Pada ayat lain ALLAH menegaskan bahwa orang beriman adalah mereka yang menginfaqkan harta mereka diwaktu sempit maupun lapang untuk kebutuhan umat dan agama. (Qs. Ali-Imran 134)

Karena itulah seruan kami sekarang adalah “ MARI KITA MENCARI IMAN KITA”. Seruan ini ditujukan dan berlaku bagi siapa saja dan bangsa manusia tidak pandang suku, bangsa dan agama apapun. Yang penting manusia kalau ingin mewujudkan hidup damai, maka segeralah temukan itu. Kenapa kami serukan hal ini? Adanya sifat sombong yang memicu pertikaian tiada henti, ego yang menyebabkan saling menjatuhkan dan saling membunuh adalah disebabkan manusia tidak mempunyai iman. Jika manusia beriman tentu lebih banyak introspeksi diri dan menelusuri kesalahan diri sendiri bukan hanya menyalahkan orang lain. Kalaupun sampai mengetahui kesalahan orang lain tidak kemudian mengolok atau membenci, tapi justru mendo’akan dan mengingatkan dalam bingkai kasih sayang.

Ciri khas manusia “mukmin, mendapat petunjuk, berderajat tinggi, berilmu” yang secara langsung tersurat daalm Qs. 8:2-4, 32:15-16, 19:57-58, 5:83-84, 17:107-109, 49:14-15, dan Qs. 9:24 dan 82 dan 111, 61:10-12, 3:92, 53:59-62)silahkan disimak.

Sungguh, seruan ini harap dijadikan prioritas kita, jangan ditunda-tunda lagi. Sebab iman itu mahal daripada dunia seisinya ini, selain itu harga seorang jiwa juga mahal, lebih mahal daripada dunia seisinya.

Bukti dan kenyataan bahwa nilai seorang manusia sangat mahal: sebuah ginjal ditawarkan melalui internet dengan harga dua milyar empat ratus juta rupiah. Dari organ ini saja, kalau diuangkan, nilainya sudah mencapai lima milyar dengan asumsi setiap orang memiliki dua buah ginjal. Sedangkan setiap orang punya organ-organ yang sejajar dengan ginjal (nilainya) sebanyak 360 seperti sel-sel, persendian, jantung, paru-paru, liver, dsb.

Seorang partisipan Pondok Kasih Surabaya mengalami kelainan dengan ibu jarinya, sehingga tidak bisa digerakkan. Setelah melalui diagnosis medis, dokter menyarankan operasi. Total biaya yang harus dibayar agar ibu jari tersebut bisa normal adalah satu milyar. Padahal tiap orang punya jari tangan dan kaki sebanyak 20 buah. Berarti jari-jari kita ini jika dirupiahkan nilainya 20 milyar.

Maka jika setiap orang punya organ-organ sejumlah 360 sel-sel dan persendian, lalu berapa trilyun harga seorang manusia? Itu belum termasuk dihitung harga nyawa atau rohnya! Maha Besar ALLAH.

Sungguhpun demikian mahal nilai manusia, namun ALLAH menciptakannya cukup hanya dengan setetes air mani yang hina itu (Qs. 36:77, 75:37, 86:5-7) kecuali penciptaan Nabi Adam, Nabi Isa, Hawa dsb.

Itulah tanda bukti kekuasaan ALLAH, sedangkan semuanya itu tadi secara gratis. Kemudian apa balas budinya manusia terhadap ALLAH SWT?! Tetapi kenyataan manusia hanya banyak bantah dan macam-macam alasan terhadap perintah-Nya.

Karenanya mari kita selamatkan diri dan bangsa ini dengan mencari iman kita kemudian menjadikannya sebagai kendali hidup kita agar sesuai dengan kehendak dan ridlo ALLAH SWT. Sebab hidup kita hanya semata karena undangan-Nya.



Seruan ini disampaikan oleh:

YAYASAN SPMAA (Sumber Pendidikan Mental Agama Allah) Ds./Kec. Turi, Kab. Lamongan, Jawa Timur, Indonesia. PO BOX 27 Lamongan Telp. 0322-324471 Email: spmaa@plasa.com Website; Sumber Pendidikan Mental Agama Allah
Bismillah

2 komentar:

romligresik mengatakan...

bismilah..
ijin copy ya..
Salam spmaa

M.el-hasani mengatakan...

بِسْمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ
salam spmaa dn salam sukses dunia akhirat

Posting Komentar

Thank you for reading !! left your comment, please..

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Islam Ornamental Art