Kamis, 21 Juni 2012

Tiga Proyek Besar Ummat Manusia



Bagi pembela umat manusia/anak cucu Adam as. Demi kemenangan dalam melawan iblis/syaithan yang terkutuk sebagai musuh utama, ada Tiga Proyek Besar yang menjadi ruh perjuangan.

PROYEK SATU - Kami mengajak bangsaku manusia seluruhnya, tanpa terkecuali untuk mengenal Allah SWT. secara mendekat dan mendasar. Bahwa Kebesaran dan Keagungan Allah Yang Maha Pencipta alam semesta adalah meliputi jagat raya antara langit dan bumi. Betapa manusia selama ini sama sekali tiada menyadari sekaligus merasakan hakekat Tuhan yang meliputi jagat raya bahkan menyelubungi jagat kasarnya sampai menembus daging dan tulangnya. Sedemikian dekatnya Tuhan dengan manusia hingga tiada tersisa jarak antara keduanya. Ukuran jarak urat nadi dengan leher begitu dekat dan lekat, namun dekatnya Allah kepada kita jauh melebihi semua yang terdekat sebagaimana firman-Nya; "Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Dan Kami lebih dekat kepadanya dari urat nadinya." (Qs. 50:16).

Sikap/perangai manusia yang masa bodoh tidak mengerti dan tidak mengenali eksistensi Tuhannya adalah wajar disandang oleh mereka yang bodoh dan kafir (anti Tuhan). Tetapi akan menjadi keganjilan yang amat nista bila yang terpandang beriman serta biasa menyebut-nyebut Tuhan Maha Esa, Maha Agung, Maha Besar dsb., namun prakteknya tiada berbeda dengan si bodoh dan kafir. Jangan-jangan pengakuan imannya hanya tiruan/palsu sedang puji-pujian kepada Tuhan yang meluncur dari bibirnya hanya manis di bibir saja. Untuk itu upaya mengenali Allah secara mendekat dan mendasar adalah proyek utama manusia (khususnya beriman) sebagai pondasi pokok dalam karir pengabdian kepada Tuhan Semesta Alam. Kepada siapa manusia akan mengabdi, melayani, menyantuni dan menyembah, bila manusia belum kenal Tuhan? Kecuali seperti yang selama ini terjadi yakni menyembah-melayani dan menyantuni nafsunya sendiri-sendiri. Hingga tiada kedamaian dan ketentraman hidup.

Sifat sombong, ujub, riya’, sum’ah, pemarah, pendendam selalu merongrong dan mencakari sesamanya. Tak peduli ibu kandungnya disetubuhi kemudian dipotong-potong menjadi 12 bagian, saudara kandungnya dibantai habis-habisan tanpa belas kasih, lebih dari itu peristiwa pencurian, perampokan, penggelapan, kolusi, korupsi dan bentrokan fisik yang mengharu biru seakan menjadi sajian menarik di setiap media (koran, TV, dan majalah) tak disadari lagi, tidak adanya kerukunan yang menjalin antara sesama yang pintar cendikiawan, antara sesama wanita yang baik-baik, antara sesama umaro’, ulama/kyai, antara pendeta/pastor, antara sesama wanita/laki-laki, antara sesama pekerja kantor dsb.

Seandainya terjadi ulama’ tidak akur dengan pencuri itu wajar, tetapi bukanlah sudah sama-sama ulama’ kenapa tidak menunggal? Jika terjadi cekcok diantara wanita baik-baik? Yang berkesimpulan diantara mereka berhati saling tego-mentolo marang bongso, jangankan boleh diminta uangnya, dihutangi saja sama sekali jangan, karena itu disimpannya rapat-rapat uangnya biar tidak sampai ketahuan oleh anak, saudara juga istri. Berarti saking mahal dan berharganya uang, sampai-sampai tidak memberi harga persaudaraan sesame bangsa, padahal berapa paru-paru anaknya? Ginjal sanak-saudaranya? Mata tetangganya? Kaki dan tangan bapaknya? Tidak lain semua ini terjadi adalah karena manusia mempertuhankan hawa nafsunya, akibat tidak mengenal Tuhan. Seandainya benar-benar manusia ini sudah mengenal Tuhannya, maka isi hatinya hanya diliputi rasa sayang terhadap sesamanya dan pikirannya peka terhadap kebutuhan bangsanya.


Sebab 1 bukanlah Tuhan Kasih dan Penyantun? Suatu misal: ketika menghadapi jamuan makanan, yang ada dalam pikirannya adalah “siapa ya… gerangan yang lebih membutuhkan makanan ini atau andainya ini saya berikan si Fulan betapa gembiranya hatinya dsb.” Jadi, tak ada dalam isi pikirannya perasaan mengutamakan, mensejahterakan, memenangkan pribadi diatas kemelaratan, kesusahan, kekalahan saudara/bangsa lain. Rupa-rupanya kebanyakan manusia ini bertuhan yang ngawur, tidak tepat sasaran (istilah jawa: angger nemu) prakteknya, golongan petani saat menghadapi sawah-tambaknya sekaligus yang dirasa dan diingat hanyalah melulu perkara sawah-tambaknya. Bagi para pegawai kantor seketika yang mengisi ruang batinnya hanyalah setumpuk kertas-kertas di meja kantornya sementara anak-anak sekolah dan mahasiswa sibuk dengan urusan belajarnya masing-masing, kemudian yang terjadi pada ibu-ibu rumah tangga manakala sibuk di dapur, maka tidak ada yang berputar-putar dalam pikirannya kecuali urusan nasi, sayur, lauk pauk, kue, dsb. Masih juga para suami saat berdampingan dengan istrinya kecuali yang ada di hatinya hanya istrinya saja, sedang Allah yang menggenangi jagat sama sekali tiada mampir dalam benak pikirannya.

Karena itu jangan mungkir bila di sini menyebut istilah Tuhan sesuatu yakni tuhan istri, tuhan nasi, tuhan sawah/tambak kebun, tuhan kertas/buku, tuhan sapi, tuhan kedudukan, tuhan kebanggaan, tuhan uang, tuhan arca-akik-keris dsb. Yang demikian itulah disebut musyrik yakni menjadikan tuhan tandingan selain Allah. Wahai bangsaku !! Jika demikian tradisi kebanyakan manusia, maka siapakah diantara kita yang terlibat musyrik? Karena itu sadarilah kekurangan diri sebelum datangnya pati kemudian reformasi diri total dengan segera mengalihkan pandangan hidup !! Hal ini penting, demi perjuangan hidup menumpas musuh syaithan, agar bangsa manusia dapat berpijak pada siroth al mustaqim, jalan Allah yang lurus. Sehingga bisa menemukan kondisi hidup bersatu dan penuh kedamaian serta mewujudkan harapan bangsa yang “adil dan makmur”. Selain kita bisa menunjukan sifar syirik berdasarkan realita, Allah pun sudah menggariskan dalam firman-Nya; "Dan diantara manusia itu ada yang mempertuhankan sesuatu yang lain daripada Allah sebagai Tuhan tandingan; dicintainya seperti mencintai Allah. Orang yang beriman hanya mencintai Allah semata. Seandainya orang yang zalim itu dapat memikirkan ketika mereka melihat siksaan nanti di hari kiamat, sungguh seluruh daya dan kekuatan hanya kepunyaan Allah. Dan sungguh-sungguh Allah Maha dasyat siksa-nya." (Qs. 2:156). 

Adapun dalam rangka mencintai Allah, awal kali kita harus mengenal Allah secara mendekat dan mendasar dengan beberapa ulasan berikut;

- Ibarat ikan di dalam air laut, maka dimana mereka berada dan bergerak selalu diliputi dan digenangi air. Atau bagaikan spon/busa yang berada di dalam air. Tentunya selain meliputi dan menggenangi, air juga meresap de dalam pori-pori spon/busa. Demikian halnya dengan kondisi manusia dan segala isi alam antara laingi dan bumi melainkan serba digenangi dan diliputi Allah yang Maha Pemurah dan Maha Pengasih.

- Kesucian Allah Pencipta bumi dan segala isi kita ambil contoh jam dinding. Dimana lantaran terhalang oleh sebuah kaca yang bening, terpaksa pandangan mata langsung tertuju pada jarum dan angka-angka. Padahal sebelum jarum dan angka ada kaca yang menghalangi. Seolah-olah pandangan mata kita meniadakan kaca yang bening itu. Mengapa demikian? Karena memang saking beningnya kaca hingga tiada terjangkau oleh mata. Begitu juga dengan dinding, jendela, atap dan langit-langit rumah. Melainkan pandangan mata kita langsung tertuju pada benda-benda tersebut. Padahal sebelum benda-benda itu, terdapat Dzat Allah. Seolah-olah memang Allah tidak ada, padahal sebenarnya Ada dan tetap Ada. Mengapa demikian? Karena saking Sucinya Dzat Allah hingga mata telanjang kita tiada pantas melihatnya. Sekali lagi, Allah itu Ada dan lebih dekat dengan urat nadi.

- Kita percaya kepada Allah dengan segala kesempurnaan dzat-Nya juga sifat-sifatNya sebagaimana yang terangkum dalam asma’ul khusnanya, jika Allah Maha Besar, rasanya tidak mungkin hanya besar saja tidak tinggi, maka Allah itu Tinggi dan Besar. Mungkinkah Allah itu hanya Besar dan Tinggi saja, tidak Luas? Maka Allah Maha Besar, Tinggi, Luas tak terbatas. Hingga tiada ruangan sedikitpun yang kosong tanpa sentuhan Allah. Selain itu Maha Pengasih, Penyayang, Penyantun, Pemelihara juga Perusak, Yang Menghinakan dan Yang Memuliakan, Yang Waspada, Yang Kuasa, Yang Kuat lagi Perkasa dan Yang Maha Ada. Semuanya tidak ada, kecuali yang ada hanya Allah. Demikianlah kiranya maksud/penjelasan kalimah “LAILAA HAILALLAH”. Andainya wujud Allah itu benda padat, maka dimana semua yang ada ini akan bertempat? Untung sekali Allah Ghoib dan Lembut sehingga barang/benda termasuk manusia ini bisa bertempat dan kelihatan mata.

- Bila secara lahir manusia berselimut kain sutera tebal, maka secara lahir pula yang ada dan yang nampak hanyalah selimutnya. Begitu juga manusia yang diselimuti Allah maka semuanya sebanarnya tidak ada kecuali Allah. Hanya saja, karena Allah Ghoib sifatnya maka menurut pandangan mata tetap tidak ada. Namun pandangan hati yang disinari iman suci selamanya akan mengatakan ada. Dan seterusnya, adanya Allah yang diyakininya akan menjadi pengawas, pengontrol dan pembimbing selama hidupnya hingga tidak sekali-kali terjadi hidup ngawur (istilah jawa: urip diamuk).

- Firman Allah; "Dan Kami lebih dekat lagi kepadanya daripada kamu, namun kamu tidak melihat. "(Qs. 56:85)Sebagaimana yang kita pahami bahwasanya Allah bersifat Ghoib (tidak bisa dijangkau oleh panca indera sekalipun alat-alat canggih), maka mustahil sekali bila manusia bisa mampu mengenali, mengingat dan mencintai Tuhannya. Namun lebih mustahil lagi bila manusia dengan kelengkapan ilmu dan imannya tidak mampu mengenali, mengingat dan mencintai Tuhannya. Harusnya mampu, tidak boleh tidak. Itulah yang dinamakan kelebihan ilmu dan kecanggihan iman. Sebenarnya adanya dzat Allah yang tidak kelihatan mata, namun tetap bisa dirasakan oleh jiwa-jiwa mukmin adalah seperti adanya udara/angin, yakni tidak bisa dilihat tapi bisa dirasakan melalui sifat-sifatnya. Cobalah kita pikir, mengapa pada saat mata kita kelilipan benda sekecil debu, seraya langsung terasa, sedang Kebesaran Allah yang meliput jagat raya sama sekali tiada terasa? Disinilah perlu kita otak-atik hingga menemukan kebenaran Tuhan. Allah berfirman;  "Timur dan barat kepunyaan Allah, sebab itu kemana saja kamu menghadap disanalah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas kekuasaan-Nya dan Maha Tahu. "(Qs. 2:115). Jadi, kemanapun kita menghadap ke atas-ke bawah-ke kanan-ke kiri-ke depan-ke belakang-pojok-samping, dsb., adalah sebenarnya menghadap Allah (berhadapan dengan Allah)"Kepunyaan-Nya segala yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan segala yang ada di bawah tanah. "(Qs. 20:6)Menghayati isi ayat tersebut maka barang-barang yang kita miliki seperti binatang ternak, sawah-ladang, emas-perak, semua kendaraan, rumah, anak, istri, perusahaan, harta perdagangan, buah-buahan juga uang adalah sebenarnya milik Allah. Namun tidakkah kebanyakan dari kita lebih banyak mengingat dan mencintai barang-barang ciptaan sekaligus kepunyaan Allah tersebut? Rasa-rasanya manusia hanya berbutan menjadi pemilik dan penguasa barang-barang Allah, sementara terhadap yang Menciptakan sama sekali tiada peduli.

Dapatkah dibenarkan seorang menantu hanya mengingat dan mencintai istrinya, tanpa mempedulikan mertua? Jawabnya: tidak benar. Kalau begitu dapatkah dibenarkan jika seseorang hanya mengingat dan cinta kepada barang-barang Allah tanpa mencinta Allah selaku Pencipta? Tentu tidak benar juga. Kalau memang segala sesuatu itu kepunyaan Allah, maka mari mendekat kepada yang punya. Biar lebih gampang mendapatkannya, selain tertulari sifat-sifat-Nya. Ibarat seseorang yang berdekatan dengan penjual minyak wangi, maka sedikit banyak akan mencium bau minyak wangi bahkan tidak jarang akan diusapi oleh penjual minyak tersebut. Bila kita jauh dari Allah berarti kita berdekatan dengan syaithan, maka sedikit banyak akan ketularan sifat-sifat syaithan, lama-kelamaan akan berhasil dikuasai olehnya. Ibarat seseorang yang berdekatan dengan pandai besi, maka sedikit banyak akan mencium bau asapnya/hawa panasnya, bahkan ada yang sampai terkena apinya. Bila proyek mengenal Allah ini benar-benar sukses pada setiap diri insani, maka hasilnya adalah sifat sombong, pemarah, dendam, riya’, ujub, sum’ah, pamrih, dsb. Berubah menjadi jiwa yang penuh kasih terhadap sesama. Itu terjadi karena orang yang dekat dengan Allah SWT. Akan terpengaruh “lingkungan Allah” yang bersifat Rahman-Rahiim.

Wujudnya, dalam keseharian bila mengetahui bangsanya yang berbuat dosa atau tersesat dari jalan Allah, timbullah jiwa kasihnya, seraya berdo’a;  “Ya Allah ampunilah dia, berilah petunjuk dan tolonglah bangsaku agar menjadi manusia yang patuh dan taslim karena memang bangsaku bersifat lemah/dho’if”, bukannya mengolok-olok atau memusuhi orang yang berdosa/salah. Sebaliknya, golongan manusia yang jauh dari ingatan kepada Allah, maka Allah membiarkan syaithan untuk mendampingi manusia itu. Sebagaimana dinaytakan dalam firman-Nya; "Barangsiapa yang tidak menumpahkan ingatannya kepada Tuhan Yang Maha Pengasih, Kami biarkan syaithan mendampinginya. "(Qs. Az-Zukhruf:36f). Setelah didampingi selanjutnya syaithan menguasai, yang akhirnya manusia dipimpin oleh syaithan keluar dari jalan yang lurus (shirot al mustaqim). Dijelaskan dalam firman-Nya; "Syaithan telah menguasai kesadarannya, lalu menjadikan lupa mengingat Allah, itulah pengikut-pengikut syaithan. Dan ingatlah bahwa pengikut-pengikut syaithan itu adalah mereka yang tergolong rugi. (Qs. 58:19).Oleh karena itu solusi yang tepat adalah belajar mengingat Allah sedang apapun, kapanpun dan dimanapun berada.

Ahli pikir itu, ialah orang-orang yang mengingat Allah sedang berdiri, duduk, sedang berbaring dan memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi. Kemudian ia merenungkan seraya berdo’a; "wahai Tuhan kami! Tidaklah sia-sia Engkau menciptakan langit dan bumi. Maha Suci Engkau, peliharakanlah kami dari siksaan neraka."(Qs. 3:191). Perintah Mengingat Allah; "Sebab itu, ingatlah kepadaKu, supaya Aku ingat pula kepadamu. Dan bersyukurlah kepadaKu, dan janganlah mengingkari nikmatKu."(Qs. 2:152). "Hai orang-orang yang beriman! Curahkanlah sering-sering daya ingatanmu kepada Allah. "(Qs. 62:10)"Apabila kamu telah selelai menunaikan ibadah hajimu, ingatlah Allah seperti kamu mengingat nenek moyangmu, atau lebih dari itu. Diantara manusia ada yang berdo’a: “wahai Tuhan kami! Anugerahilah kami kebaikan di dunia”. Dan bagi orang-orang yfang demikian itu di akhirat tidak mendapat apa-apa." (Qs. 2:200).  "Mereka ialah orang-orang yang beriman, yang hatinya menjadi tentram dengan menginat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati orang mu’min menjadi tentram. "(Qs.. 13:28).

PROYEK DUA - Kami mengajak bangsaku manusia seluruhnya melatih diri untuk mengetahui musuh ghoib, yakni syaithan. Hal ini penting diatas yang terpenting, kita bayangkan sejumlah tentara saat saling hantam habis-habisan melawan musuh, usut punya usut ternyata barusan terjadi pembantaian terhadap saudara/teman sebangasanya sendiri. Atau seseorang yang menjalin hubungan (mitra kerja) yang cukup kental terhadap yang lain, atas dasar saling percaya keduanya saling melakukan atraksi, namun tragisnya berujung penyesalan yang mengiris hati setelah menyadari bahwa teman intimnya adalah musuh utamanya sendiri yakni syaithan la’natullah. Dan yang lebih tertipu lagi adalah mereka yang sudi menghamba kepada seorang majikan demi sekelumit kesenangan, sayang seribu sayang dibalik manisnya perangai majikan tersimpan nyala dendam untuk menjatuhkan dan menyeretnya kepada kecelakaan.
Semuanya ini terjadi adalah karena saking pandainya/liciknya musuh dalam mengatur siasat tempur. Sekarang yang terpenting adalah bagaimana mengetahui jati diri musuh? Dimana markas besarnya? Dan bagaimana cara menghadapinya?

Gambaran prolog diatas adalah secuil nasib manusia pada umumnya, akibat terkena biusnya lawan (syaithan/iblis). Terpaksa saling bentrok antar sesamanya, rakus terhadap harta dunia, lupa kampung halamannya (akhirat), segala gerakannya menurutkan kata hati (serba ngawur tanpa bertimbangan matang) dan itulah wujud manusia yang telah diperbudak oleh musuh syaithan/iblis. Ketahuilah bahwa syaithan bekerja sekaligus bersarang pada hati setiap manusia. Tersebut pada Qs. 7:17, mula-mula syaithan mendatangi manusia dari muka, belakang, kanan, kiri, selanjutnya ayat 27syaithan senantiasa mengintai manusia dari tempat persembunyiannya. Qs. 2:36 mengabarkan rencana busuk syaithan terhadap manusia. Namun kenapa sejauh ini, tak pernah terdengar berita bahwa si Fulan telah dibisiki, dinasehati, diintai bahkan telah dikuasai oleh syaithan? Padahal syaithan beroperasi pada hati setiap orang. Agaknya kurang dari ada pembicaraan insani yang menyinggung tentang syaithan dan sepak terjangnya baik dalam diskusi, seminar, symposium, lokakarya, dsb.

Padahal syaithan tidak pernah libur dalam mengerjai manusia. Seakan-akan syaithan hanya ada dalam cerita hayalan/dongeng, sehingga firman Tuhan mengenai syaithan tak pernah terbukti kebenarannya. Terpaksa rahasia syaithan amat tertutup. Setiap lalu lalang dalam pikir hatinya diakui sekaligus dirasakan timbul dari dirinya sendiri. Ketika ada peringatan, mereka dengan entengnya membalikkan fakta: Bila dikatakan kepada mereka: “janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi”, mereka menjawab, “sesungguhnya kami ini adalah orang-orang yang baik belaka”.Waspadalah sesungguhnya merekalah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar. (Qs. 2:11-12) Bila dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang lain telah beriman!”, mereka menjawab:“mana mungkin kami akan beriman pula seperti orang-orang bodoh itu!”Ingatlah! Sesungguhnya merekalah yang bodoh, tetapi mereka tidak mengetahui. (Qs. 2:13). Syaithan memang tidak takut merayap pada hati orang-orang pintar-cendikiawan, berilmu agama, berkedudukan, kuat, gagah perkasa, dsb.

Tidak peduli sekalipun mereka yang miskin, kaya, bodoh, orang tua ringkih dan ompong. Buktinya merasa lebih pandai, lebih terpandang, lebih kuat, lebih kaya, lebih cantik, sombong, iri, bahkan mereka yang terpandang lemah, bodoh dan miskin tetap saja berlaku sombong, dalam arti tidak siap diremehkan, tidak siap menerima peringatan serta tidak siap mendekat kepada Allah yang Maha Kaya lagi Perkasa. Padahal tiada secuilpun dari dirinya yang patut dibanggakan. Tiada lain kecuali inilah hasil kerja syaithan. Oleh karena itu wahai bangsaku !! Mari melatih diri mengetahui musuh ghaib, yaitu syaithan.

Diantara cara-cara sebagai berikut:

1. Setiap timbul tenggelamnya pertumbuhan hati hendaknya selalu dipertimbangkan, jangan selalu menyetujui !! Atau selalu memasang sikap curiga terhadap segala bisikan hati, jika memang bisikan itu melanggar standar hukum agama (Al-Qur’an dan Hadits) maka itulah reaksi musuh, saat itulah manusia beriman dan berilmu manfaat melakukan bela diri. Maksudnya mencegati pikiran dan perbuatan pelanggaran agama. Jika hati dirayap syaithan sementara sang pemilik sama sekali bergeming/berusaha untuk bela diri, bahkan melindungi perbuatannya yang salah dengan cara tidak mengakui serta tidak menerima saran atau teguran dari teman-saudara, sungguh ilmu macam apa yang dikonsumsi/dipakai? Ditegaskan dalam firmannya: Sesungguhnya syaithan itu musuhmu, karena itu perlakukanlah dia sebagaimana musuh. Dia hanya menyuruh pengikut-pengikutnya supaya sama-sama menjadi penghuni neraka yang menyala. (Qs. 35:6).

Sikap tidak curiga dan tidak bela diri, berarti memperlakukan syaithan tidak sebagaimana musuh, tetapi sebaagaimana mitra kerja, juru nasehat, pemimpin atau majikan. Mereka akhirnya tertipu dan tersiksa (oleh dirinya sendiri) sebagaimana dinyatakan dalam Qs. 14:22.

2. Selalu tekun dalam mengontrol diri/baca diri dengan kaca mata Al-Qur’an dan Hadits Nabi saw. Atas segala macam perbuatan. Berarti harus siap menambah dan mengurangi sikap/perbuatannya manakala sudah berhasil menemui kekurangan dan kelebihan diri sebelum datangnya mati. Contoh segi kekurangan diri:  kurang syukur, kurang ingat kepada Allah, kurang persiapan ke akhirat, kurang berkasih-kasihan, kurang taubat, kurang wira’i, dsb. Segi kelebihannya: dalam hal bicara sampai terjadi ghibah, mengumpat, mencela, adu domba, fitnah, dsb. Dalam bersikap hingga terjadi meremehkan diri orang lain, mementingkan diri sendiri, rakur terhadap dunia, pemarah, pendendam dsb.

Dimana segala macam perbuatan yang menyimpang dari pelanggaran agama (maksiat) adalah hasil rekayasa iblis/syaithan terhadap manusia, sedang diri kita sering kali tidak sadar. Berikut firman Allah yang membongkar rahasia syaithan: Iblis berkata lagi: “ Ya Tuhanku, karena Engkau telah memutuskan aku ini makhluk sesat, maka aku akan merangsang keinginan anak cucu Adam dimuka bumi untuk berbuat maksiat, dan akan aku bawa sesat mereka semuanya” (Qs. 15:39). Tatkala putusan hakim telah dilaksanakan, bekatalah syaithan terhadap manusia pengikutnya:“Sesungguhnya Allah telah menjanjikan yang benar kepada kalian. Akupun telah menjanjikan pula, namun janji itu telah kuputarbalikkan. Sebenarnya aku tidak berkuasa apa-apa untuk memaksa agar kalian mengikuti jalan maksiat, kecuali hanya sekedar mengajak, lalu kamu patuhi ajakanku itu. Karena itu, janganlah kalian mencercaku, tetepi cercalah dirimu sendiri. Kini aku tidak dapat menolong kalian. Sedang kalianpun tidak pula dapat menolongku. Lagipula aku menyanggah perbuatan kalian di dunia dahulu dimana kalian telah mempersekutukan Tuhan dengan aku”. Sesungguhnya untuk mereka yang dzalim, adalah siksa yang amat pedih. (Qs. 14:22)   Demikianlah akhirnya manusia menjadi korban syaithan. Karena pada masa dunianya selalu mengikuti ajakan syaithan. Maksudnya selalu mengikuti ajakan nafsunya sendiri tanpa perdulikan ajaran agama. Ketika itu manusia baru sadar setelah terjebak dengan peringatan Allah: Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai anak-anak Adam, supaya kamu jangan menyembah syaithan, sebab itu sudah nyata musuhmu? Qs. 36:60)   

Sekali-kali tidak bakal terjadi penyesalan di hari kemudian, bila manusia hidup rukun dengan ilmu agamanya, sedang ciri-ciri ilmu yang bermanfaat adalah melindungi pemiliknya dari kejahatan nafsunya, berarti telah mengetahui musuh ghaib, yaitu syaithan/iblis.

3. Selalu waspada seperti halnya kewaspadaan seorang petinju saat bertanding menghadapi lawan diatas ring. Kemanapun gerak-geriknya seluruhnya dicurahkan untuk mengintai-mencari kesempatan kosong untuk menjatuhkan lawannya atau saat di medan perang antara tentara Indonesia melawan tentara Belanda. Bila bersikap tidak sebagaimana di atas berarti telah dikuasai oleh musuh syaithan, sebagaimana rakyat Indonesia ketika sedang dikuasai oleh penjajah Belanda. Ketidakberdayaan rakyat Indonesia terpaksa segala macam corak dalam pemerintahan maupun tatanan kehidupan sehari-hari semuanya serba diatur/dikendali oleh penguasa Belanda. Begitulah manusia yang sudah dikuasai oleh syaithan, maka, segala gerakannya kecuali serba menurut kemauan syaithan. Sayangnya mereka yang dikuasai syaithan sama sekali tidak sadar.

Upaya melatih diri mengetahui musuh syaithan kiranya akan lebih tepat membawa hasil bila kita banyak-banyak mengingat Allah dan segala gerakan kita merasa seolah-olah berhadapan dengan Allah.

PROYEK TIGA - Kami mengajak bangsaku manusia untuk menanam keyakinan tentang dunia akhirat. Umumnya manusia puas dengan kehidupan dunianya. Sedang kehidupan akhiratnya sama sekali tidak peduli. Baik segi kesenangan, kemewahan, kebanggan, kemiskinan, dan kesusahannya. Hal ini wajar bagi jenis binatang ternak atau manusia yang tergolong bodoh dan kafir. Karena binatang tidak memiliki kelanjutan hidup di akhirat, dan pula manusia kafir tidak percaya adanya akhirat. Karena itu mengingatkan mereka tentang kehidupan akhirat, kecuali bermacam-macam bantah dan alasan yang diperbuat. Sebagaimana terdapat pada Qs. 44:36“Kalau memang ada hidup yang kedua kali, cobalah kamu hidupkan kembali nenek moyang kami yang telah mati, jika memang pihakmu benar” (Qs. 44:36) Seandainya akhirat itu benar-benar tidak ada, maka dimana kedudukan manusia mulia? Berarti sama dengan binatang ternak yang tidak berderajat mulia. Kepada mereka yang lahirnya beriman (percaya akhirat) hendaknya jangan puas dengan kepercayaan yang tentu arah. Kelihatannya percaya, tetapi prakteknya sama persis sebagaimana orang bodoh dan kafir. Misalnya: Yang dicita-citakan/yang direbut orang bodoh/kafir adalah kesenangan, kemewahan, kekayaan dan kebanggaan masa dunia, sementara yang dikhawatirkan hanya kemelaratan, kehinaan dan kesusahan masa dunianya.

Sedang kita yang lahirnya beriman juga demikian adanya. Kalau begitu apa artinya beriman? Jangan-jangan itulah maksud iman yang belum menembus ke hati. Dunia dan akhirat adalah semacam dua keterpaduan bahasa yang saling kait-mengikat separti halnya siang dan malam, laki-laki dan perempuan, tinggi dan rendah, tua dan muda, dsb. Keterpaduan yang utuh, tidak bisa disebut malam bila tidak ada siang atau tidak akan disebut rendah bila tidak ada yang tinggi. Dan pula tidak bisa ke akhirat tanpa melalui dunia. Jadi hasil sukses di akhirat adalah semata-mata pembawaan dari dunia, karena itu sekali-kali kita tidak bisa mengabaikan dunia begitu saja lantaran mengejar keutamaan akhirat. Begitulah dunia dan akhirat yang rupa-rupanya tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain. Dua-duanya sama-sama harus diimani, diurusi dan dihargai. Berapa harga dunia? Rasulullah saw. Dalam suatu riwayat memberi harga terhadap dunia, tidak lebih dari sebesar telinganya bangkai kambing sementara pada riwayat lain Beliau mengatakan dunia hanya senilai sayap nyamuk. Djabir ra. Berkata: ketika Rasulullah saw. Berjalan di pasar dan dikelilingi orang mendadak di sana bertemu bangkai telinga kambing yang kecil telinganya (kuper), maka Rasulullah mengangkat telinganya dan bertanya: “siapakah yang suka membeli ini dengan sedirham?” Jawab mereka:“Tiada yang suka itu dan buat apa itu?” Nabi besabda: “Demi Allah andaikan itu masih hidup, ia pun cacat, apalagi ia sudah bangkai”. Maka sabda nabi: “Demi Allah, sungguh dunia ini tidak lebih hina dalam pandangan Allah, dari bangkai ini bagimu”(HR. Muslim). 

Terjumah Riadhus Sholihin 1 Hal. 403. No. 8 Sahl bin Sa’ad Assa’idy berkata: Rasulullah saw. telah bersabda:“Andaikan dunia ini bernilai di sisi Allah sebesar sayap nyamuk, maka tidak akan diberikannya kepada orang kafir walau seteguk air. (At-Tirmidzy) Terjemah Riadhus Sholihin 1 Hal. 411 No. 21 Sedang perbandingannya dengan nilai akhirat, Allah SWT. Mengabarkan dalam firman-Nya: Perhatikan bagaimana Kami melimpahi yang sebagian yang berlebih dari yang lain. Sudah pasti dalam kehidupan akhirat jauh lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar kelebihannya. (Qs. 17:21)Sesungguhnya akhir (akhirat) itu lebih baik daripada permulaan (dunia). Qs. 93:4) Gampangnya secara akal, bagaimana tidak lebih baik, lebih tinggi dan lebih besar kelebihan akhirat dibanding dunia? Segi kesenangan setiap orang akan mendapat tanah seluas langit dan bumi lengkap istri-istri yang cantik dan rumah-rumah yang terbuat dari emas-intan-yakut-zabarjut, belum lagi buah-buahan yang tidak pernah busuk, tanpa menderita sakit, mati, kencing, berak, sholat, puasa, tanpa mendengar perkataan yan menyakitkan dari siapapun. Pokoknya selalu sibuk senang dan bermewah-mewahan. Sedang di masa dunia, meskipun bangga menjadi presiden tetap saja sakit, kencing, berak, bahkan tersiksa akibat banyaknya surat kaleng yang masuk.

Seorang sarjana muda bersama mobil pribadinya pulang seusai pelatihan selama berminggu-minggu dengan rencana akan menikah dan ditempatkan di Amerika menjadi duta besar. Mendadak terjadi kecelakaan di perjalanan, akhirnya gagal rencana menikah dan pergi ke Amerika, jadinya pergi ke kuburan. Itulah yang disebut dunia tipuan. Bayang-bayang hati akan merasa enak, bahagia, sukses, bangga mewah tetapi kemudian terjebak dengan mati, sakit, terhina, terusir,tersiksa, tertuduh, dsb. Karena pada hakekatnya kesenangan, kemewahan, kebanggan di dunia itu tidak pernah ada. Yang ada hanya di akhirat yakni syurga. Sedang kesenangan, keindahan, kebanggaan dan kemewahan di dunia hanyalah palsu, tipuan atau khayalan. Kalaupun ada itu hanyalah kesenangan sementara/keindahan yang sekejap mata, setelah itu siksa dan penderitaan yang tidak berujung.

Menyadari demikian perbandingannya antara dunia-akhirat, tentunya bagi manusia yang berakal sehat lagi beriman akan memilih dan mengutamakan akhirat. Tetapi kenapa kebanyakan yang terjadi malah memilih dan mengutamakan dunia?Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai kehidupan dunia lebih dari akhirat dan bahwasanya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum kafir. Mereka itulah orang-orang yang hati, pendengaran dan penglihatannya telah dikunci mati oleh Allah, dan mereka itulah orang-orang yang lalai. (Qs. 16:106-108) Adanya manusia tidak bisa mikir tentang akhirat adalah kecintaannya terhadap dunia. Sehingga pandangan hatinya ditutup rapat-rapat oleh Allah, terpaksa yang diurus hanya kebutuhan dunia semata. Usaha tentang rumah sebatas hanya rumah di dunia semata, usaha tentang kendaraan, pakaian, makanan juga sebatas di dunia. Padahal di akhirat belum punya rumah, kendaraan, pakaian, makanan dll. Hanya bersikap tenang-tenang dan santai-santai. Jangankan sampai usaha membuat rumah di akhirat, usaha terhindar dari ancaman dan siksa di akhirat saja tidak bakalan terjadi bagi mereka yang hatinya telah terkunci. Anehnya yang biasa menyebut dunia-aknirat, dunia-akhirat, … tapi prakteknya? Lain di bibir lain di hati, lain di hati lain pula dalam praktek. Ternyata hanya dunia dan dunia saja yang melulu diurus.

Merekalah yang diteror Allah dalam firman berikut: Sekali-kali kamu tidak begitu, sebenarnya mereka tidak takut pada hari akhirat. (Qs. 74:53) Sekali-kali tidaklah keadaan seperti yang kamu katakan, tetapi sebenarnya kamu mencintai kehidupan dunia dan meninggalkan kehidupan akhirat. (Qs. 75:20-21) Mengapa sampai terjadi meninggalkan kehidupan akhirat seperti layaknya orang yang tidak percaya akhirat (kafir) bisa jadi mereka imannya belum sampai masuk ke hati(Qs. 49:14) atau iman karena ikut-ikutan (warisan nenek moyang). Oleh karena itu di sini betul-betul mengajak manusia untuk menanamkan keyakinan tentang dunia-akhirat setidaknya akan membuat kita senantiasa konsentrasi yang menjalin antara dunia-akhirat. Syukur-syukur mampu mengutamakan kebahagiaan dan kesenangan akhirat di atas penderitaan dan kesusahan dunia. Dan itulah yang terbaik.

Sebenarnya dimana sih akhirat itu? Sepintas umumnya orang akan berfantasi bahwa akhirat itu demikian jauh hingga tidak bepuluh-puluh tahun jarak menempuhnya. Pengaruh pemahaman yang salah itu akhirnya mempengaruhi jiwanya hingga tidak sesegera mungkin menyiapkan pebekalan akhirat. Digantungkannya perjanjian: besok-besok saja mikir bekal mati (sangu mati), besok saja kalau sudah tua… dst. Padahal siapa yang bisa menjamin kalau besok, minggu depan, bulan depan dan tahun depan kita masih hidup? Demikianlah hidup ini seakan-akan tanpa terminal (mati). Baru setelah mati datang menjemput, gelagapan pulang ke akhirat dengan bekal kosong. Karena semua barang-barangnya tertinggal di dunia.

Sebenarnya akhirat itu dekat, seperti halnya dekatnya Allah kepada manusia atau seperti dekatnya leher dengan urat nadi. Padahal dekatnya urat nadi dengan leher seperti sudah menyatu, tetapi dekatnya akhirat dengan kita lebih dekat lagi. Hanya kalau pintu maut sudah terbuka, maka sekejap itu manusia akan masuk ke wilayah akhirat. Tanpa melewati jarak berhari-hari, berminggu-minggu dan berpuluh-puluh tahun lagi. Seperti dekatnya isi dan kulit buah pisang, begitu kulit dikelupas maka seketika itu melihat isi. Jadi akhirat itu di sini- ditutupi dunia, begitu dunia disingkap, maka sekaligus kelihatan akhirat. Itulah bukti bahwa akhirat itu dekat. Menyadari betapa dekatnya akhirat, maka selayaknya tegopoh-gopoh menata/mempersiapkan perbekalan apa yang hendak dibawanya untuk kecukupan bekal hidup di akhirat. Ibarat seorang penumpang bus bersama segenap barang miliknya, menyadari dekatnya terminal atau tempat yang dituju seraya langsung berkemas-kemas membawa tas ransel dan semua bawaannyaaaa, baru kemudian dengan perasaan lega turun menuju ke tempat tujuan.Tetapi kalau ada penumpang bus yang tenang-tenang/teledor tidak menyadari jarak dekatnya tujuan dan pula tidak persiapan, mendadak si sopir menghentikan bus pertanda telah sampai pada tempat yang dituju, tiba-tiba diliputi sesal kenapa barang-barang sampai tertinggal di bus, dan mustahil barang-barang itu akan sampai/kembali ke tangan penumpang itu lagi, sudah pasti hilang tak tentu arah.

Demikianlah ibaratnya kita yang tidak tergopoh-gopoh persiapan bekal, mendadak mati datang pertanda tujuan akhirat telah sampai, kemudian tinggal diliputi penyesalan kenapa barang-barang sampai tertinggal di dunia, mau tidak mau kecuali hidup celaka bersama syaithan yang disebut neraka, Naudzubillah.

Hak Asasi Manusia Mencapai Kebahagiaan Hidup - Meski berbagai ulasan dan penjelasan tentang bagaimana kehidupan dunia dan bagaimana pula kehidupan akhirat, toh keputusan akhir tepulang kepada kita masing-masing. Dimana kita mempunyai kebebasan sepenuhnya untuk memilih salah satu diantara keduanya. Tak ada yang dapat menyuruh, mempengaruhi apalagi memaksa kita. Sehubungan dengan penentuan nasib baik dan buruk, maka semua itu di tangan kita dan tergantung kita. Perhatikan ayat-ayat dibawah ini.

Barangsiapa yang menghendaki kehidupan sementara ini 1) Kami berikan juga, berapa saja Kami kehendaki dan kepada siapa saja yang kami sukai. Kemudian Kami sediakan baginya neraka yang akan membakarnya sebagai orang yang nista dan terbuang. (Qs. 17:18)1)

Kehidupan dunia atau keuntungan duniawi sebagai tuntutan yang mendesak.Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan dia berjuang dengan gigih untuk mencapai cita-citanya sebagai seorang mu’min, maka mereka itu adalah orang-orang yang terpuji. (Qs. 17:19)Kepada masing-masing golongan, baik ini maupun golongan itu Kami limpahi tetus karunia dari Tuhan. Karunia Tuhanmu itu diberikan tanpa pilih bulu 1). (Qs. 17:20)1)

Di dalam mencapai perlombaan hidup di dunia terdapat dua golongan yang bersaing, ialah: Golongan kebendaan (materialistis) dan golongan kerohanian (idealis, keagamaan). Terhadap dua golongan ini Tuhan tidak pilih kasih dalam memberikan karunia-Nya, apakah itu golongan materialis atau golongan idealis (keagamaan), tidak peduli.`Perhatikan bagaimana Kami melimpahi yang sebagian berlebih dari yang lain. Sudah pasti dalam kehidupan akhirat jauh lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar kelebihannya. (Qs. 17:21)

Demikianlah pilihan yang diberikan Allah kepada manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup. Sekali lagi kita bebas memilih, pilih bahagia di dunia atau pilih bahgia di akhirat, terserah !! Sedang Allah telah menegaskan bahwa kesenangan, kebahagiaan, kebanggaan itu jauh lebih besar-lebih tinggi-lebih luas-lebih indah dan lebih kekal di akhirat. Bagi pembela umat, cita-cita manusia untuk mencapai kehidupan adil-makmur tidak bakal tercapai sebelum mempraktekkan tiga konsep tesebut dalam kehidupan. Pandangan ini bisa kita nyatakan pada zaman sekarang, ketika manusia melupakan tiga konsep tersebut, maka terjadilah pelanggaran dan penyimpangan dari standar aturan Allah, antara lain:

1. Bersifat lebih mencintai harta kekayaan, kedudukan, kebanggaan, kemenangan, kesenangan dunia daripada Allah SWT. Pencipta alam semesta. Padahal semestinya lebih mencintai Allah SWT. Sebagai Pencipta seluruh benda di alam semesta ini daripada barangnya sendiri.

2. Pemarah, pendendam dan saling menjatuhkan antar sesama manusia. Yang seharusnya saling menyayangi.

3. Lebih mengutamakan pribadi dan mengalahkan orang lain. Sedangkan yang benar dan baik di sisi Allah adalah segala hasil demi kebersamaan.

4. Lebih mencintai dan berlomba merebut ciptaan Allah, seperti tanah, air, buah-buahan dan barang lainnya tanpa menoleh-mengingat Penciptanya. Boleh saja mencintai dan merabut barang-barang di dunia ini, tapi selayaknya rebut dan cintai juga Allah Pencipta barang-barang tersebut.

5. Lebih mengutamakan kehidupan dunia dengan meninggalkan akhirat. Padahal jika menyadari bahwa kampung halaman yang sesungguhnya bagi manusia adalah akhirat, maka seharusnya manusia lebih mengutamakan kepentingan akhirat di samping kehidupan dunia.

Jika kelima sifat itu masih bercolol pada jiwa manusia, kemudian dimana kelebihan kedudukan manusia yang biasa disebut-sebut berderajart muliaa bila dibandingkan dengan binatang ternak? Dimana pula kelebihan, kedudukan manusia, terutama bagi yang dikenal berilmu beriman bila dibandingkan yang dikenal bodoh dan kafir? Tidakkah ini berarti lebih hina dari jenis binatang ternak?

Jika orang kafir dan orang bodoh hanya bisa mencinta dan merebut barang yang tampak mata, maka dengan kelebihan ilmu dan iman, bisa mencintai Allah meskipun ghaib.

Jika orang bodoh dan kafir tidak mampu mengenali musuh syaithan sehingga yang dimusuhi sesama manusia, maka kelebihan berilmu dan beriman bisa mengenali musuh ghaib syaithan.

Jika orang bodoh dan kafir hanya berpandangan hidup sebaras dunia, maka kelebihan ilmu dan iman mampu menembus jauh ke akhirat meski belum tampak mata.

Tanggung Jawab ManusiaSelanjutnya - Mari kita berusaha menumbuhkan kesadaran bahwa hidup kita ini berurusan dengan Allah, jangan diatur dan dijalankan sekehendak hati. Usahakan juga bahwa hidup kita ini akan menghadapi tuntutan besar-besaran di akhirat kelak. Segala tingkah laku, setiap huruf yang keluar dari mulut akan dituntut di hari pembalasan. Bahkan keluar masuknya nafas ini juga dimintai pertanggungjawaban. Dimana setiap jamnya kita menghirup nafas sebanyak 24 x 360 = 8. 640 pernafasan. Semuanya itu merupakan hutang-hutang kita kepada Allah. Di dunia kita wajib membayarnya dengan cara mensyukurinya. Jika kita lupa tidak mensyukurinya berarti kita pun hutang. Maka di akhirat kita pun dituntut. Sedang tuntutan yang lain adalah perihal dosa-dosa kita. Bahwa tidak seorangpun yang setiap hari tidak tersentuh dosa.

Banyak perilaku dan suasana kejiwaan yang menyebabkan dosa meskipun tidak kita sadari, antara lain bab syukur tentang nafas tadi. Belum jantung yang jika sakit untuk penyembuhannya ratusan juta. Pada saat berdiri, berjalan, duduk tidak ingat Allah SWT. termasuk dosa. Makan dan hidup enak tidak ingat teman, bangsanya juga tercatat dosa. Bahkan jiwa para Nabi-Rasul pun pernah tersentuh dosa. Rasul Yunus merasa berdosa dan dholim dikisahkan pada Qs. 21:87, Rasul Musa menangisi dosa dan khilafnya pada Qs. 28:16, Rasul Adam menangis dan menyadari kedholimannya ketika terusir dari syurga pada Qs. 7:23. Rasul Muhammad yang setiap hari tidak kurang 100 kali sowan kepada Allah SWT. untuk bertobat.

Bahkan dalam kitab Durrotun Nasihin desebutkan bahwa 300 tahun Rasul Adam menangisi dosa. Bukan saja dosa beliau tapi dosa-dosa kita sekarang ini. Dalam kisah Rasul Adam ini ada pelajaran besar yang bias kita ambil. Ketika beliau digusur dari syurga, beliau tidak berusaha membela diri atau menutup-nutupi kesalahan, tapi justru langsung mengoreksi diri dan menyadari serta menaubati kesalahannya. Seperti halnya orang yang terusir dari kejadian penggusuran akhir-akhir ini. Seharusnya ketika seseorang atau sebuah kelompok terusir dan tergusur oleh kelompok lain, yang harus ditumbuhkan adalah keroksi diri, kesalahan apa yangh diperbuat sehingga dia terusir. Bukannya malah mencak-mencak, marah karena tidak sadar.

Kita juga sering mendengar bahwa Nabi-Nabi itu ma’sum. Kita juga perlu perhatikan arti ma’sum. Bahwa Nabi-Nabi itu suci dari dosa memang benar. Namun bukan berarti Nabi-Nabi tidak pernah berdosa. Beliau-Beliau tetap pernah tersentuh dosa, tapi karena ma’sum (terjaga), maka langsung mendapat teguran dari Allah sekaligus menyadari (menaubatinya). Setelah ditaubati tentu saja bersih. Demikian terus tiap kali Beliau khilaf, langsung Allah peringatkan, bertaubat dan diampuni. Sehingga para Nabi-Rasul senantiasa suci dari dosa. Sebaliknya bagi manusia biasa yang dibiarkan Allah, dosa-dosa yang berulang-ulang, menumpuk bergunung-gunung tidak merasa dan tidak pernah ditaubati. Sedang maksud Allah memberikan pengalaman kepada para Rasul-Nya tersentuh dosa, agar dijadikan peredam dan penumbuh kesadaran ketika menghadapi umat yang berdosa dan salah. Bahwa manusia berjiwa dhoif, buktinya diri beliau-beliau sendiri pernah tersentuh dosa.

Untuk mewujudkan semua hal di atas, hanya bisa dilalui dengan perjuangan yang sungguh-sungguh. Dan kemenangan hanya bisa diperoleh dengan pengorbanan. Antara lain dengan:

1) Siap berkorban harta jiwa, tenaga dan perasaan.

2) Mengajak diri siap diremehkan dan siap terhina. Dengan dasar pertimbangan:
a. 1. Secara anatomis, diri manusia dijadikan dari benda cair (sperma) yang menjijikkan. Dengan bahan baku seperti itu kenapa kita tidak sadar ketika diremehkan?
    2. Pada tubuh manusia dipenuhi kotoran, tinja, muntahan, air liur, air seni, darah, dll. Dengan isi seperti itu mengapa tidak mau diremehkan.
    3. Jiwa manusia banyak dosa dan salah, maka setiap penghinaan yang datang, terima dengan sadar, anggaplah sebagai peringatan sekaligus ditaubati.
    4. Betapapun juga, sebentar lagi hidup setiap manusia akan berakhir dengan datangnya maut. Lalu dikebumikan, masuk ke kubur, ditimbuni tanah. Apa yang hendak dibanggakan sampai-sampai tidak sadar diremehkan?

b. 1. Sejumlah banyak Nabi-Rasul adalah hidup terhina dan dimusuhi oleh bangsa jin, syaithan, manusia. Seperti Rasul Muhammad saw. yang kebenaran dan kejujurannya telah disaksikan dunia, tapi semasa hidupnya di tengah masyarakat tetap dalam kondisi terhina dan teraniaya. Bahkan beberapa orang-orang Nabi-Rasul terbunuh. Ada pula pejuang yang disisir besi hingga mengelupas daging dan kulit terpisah tinggal tulang, ada yang dibakar hidup-hidup (Nabi Ibrahim), digergaji dari atas sampai terbelah dua (Imam Nawawi), ada yang dibunuh (Nabi Zakariyah) dan ada juga yang derebus dalam belanga (Ibu Masyithah).

    2. Allah SWT. Pencipta alam semesta pun diremehkan manusia. Buktinya perintah-Nya didalam kitab suci yang jumlahnya     ribuan, tapi manusia cukup puas mengamalkan beberapa bagian saja. Larangan-Nya ribuan tapi hanya ditinggalkan sebagian kecil saja. Manusia tidak takut ancaman Allah berupa neraka dan tidak menoleh tawaran syurga dari Allah. Manusia puas dengan mengucap dua kalimah syahadah, sholat lima waktu, membayar zakat, puasa ramadhan, haji ke Mekkah di tambah pandai berdalil kitab dengan bahasa arab. Padahal amalan itu baru sekian persen dari seluruh perintah Allah yang tertuang dalam kitab suci-Nya yang berjumlah ribuan bahkan jutaan itu. Lagipula yang mereka amalkan itu baru sebagian jembatan menuju kebenaran. Mereka baru dalam perjalanan menuju kebenaran dan belum sampai ke tempat tujuan. Padahal sangat mungkin terjadi di tengah perjalanan tergelincir, terbegal, tertipu atau tersesat akibat tipu daya rayuan syaithan/iblis. Belum lagi perihal larangan Allah yang juga berjumlah ribuan. Sementara kewajaran manusia sudah merasa bersih dari dosa dan berkondisi baik bila tidak pernah mencuri, berjudi, minum minuman keras, atau hal larangan lain seperti zina, dll. Padahal kalaupun larangan-larangan itu telah kita tinggalkan, di sisi Allah lebih banyak lagi larangan yang kita langgar dan perintah yang kita tinggalkan seperti penyakit-penyakit hati, sombong, riya’, ujub, pamrih, syirik, praktik-praktik mengutamakan pribadi mengalahkan orang lain. Lupa mensyukuri ribuan nikmat yang kita terima dari Allah, bukan hanya tergolong dosa, tapi juga kufur.
         Ditegaskan pula pada Qs. 5:68 bahwa di sisi Allah, belum dianggap beragama sedikitpun sehingga mengamalkan semua isi kitab (Taurat, Injil, Al-Qur’an). Dengan kesimpulan, bagai umat Yahudi baru disebut beragama bila mengamalkan seluruh isi kitab Taurat, umat nasrani bisa mengaku beragama bila telah mengamalkan seluruh isi kitab Injil dan umat Islam berhak mengaku sebagai umat beragama dan umat Muhammad bila telah mengerjakan seluruh perintah dan meninggalkan segala yang ada dalam Al-Qur’an. Maka belum disebut beragama sehingga setiap umat melaksanakan kitabnya masing-masing. Padahal menurut kenyataan yang terjadi pada umat beragama, jangankan seluruh, separuh saja dari isi kitab belum tentu telah dilaksanakan.


Karenanya, wahai bangsaku, sebelum maut datang menjemput, pehatikan seruan ini. Laksanakanlah TIGA PROYEK BESAR ini, niscaya kehidupan kita akan selamat dunia-akhirat dalam naungan ridlo dan ampunan Allah. Amiin!!!

Kesimpulan dan penutup.
Tulisan “Tiga Proyek Besar” ini, layak dibaca dan dimengerti oleh seluruh manusia, tidak eksklusif untuk sebuah pengamal agama tertentu. Kemudian yang menjadi masalah (penekanan) adalah, kita dituntut atas pelaksanaannya. Sudahkah kita berbuat sesuai dimaksud makalah tersebut. Dalam arti, kita tidak hanya cukup puas karena pandainya dalam membaca dalil Al-Kitab saja, yang tanpa menyadari bahwa dalii yang kita baca itu harus dikerjakannya. Tujuan awal dari penulisan “TIGA PROYEK BESAR” ini, adalah, setiap pembaca dapat mengerti dan kemudian ditindaklanjuti dengan upaya serius melaksanakannya.

Agar tak seperti yang sudah-sudah, banyak tulisan bermutu, setelah dibaca, hanya berfungsi sebagai bunga rampai/koleksi, sebagai penghias rak-rak pustaka semata.


Lamongan, 4 maret 2001. Yayasan SPMAA Divisi Pusbitan Sumberillah PO box 27 Lamongan 62200 Telp/Fax 0322-324471-3224472 Jawa Timur E-mail: spmaa@plasa.com Website; Sumber Pendidikan Mental Agama Allah

Thanks for;
Bismillah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Thank you for reading !! left your comment, please..

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Labels

Islam Ornamental Art